Andai Bunuh Diri Halal, Aku Ingin Sekali MATI!
Terdengar putus asa, tapi itu yang kurasakan saat ini. Alhamdulillah IMAN ku masih tangguh untuk menghalau niat GILA ini. Pikiran ini terlintas dalam benak ku karena aku benar-benar merasa putus asa dan menderita sekali! Padahal aku tidak kelaparan dan aku tidak kesakitan. Aku sehat, bugar dan aktif. Kondisi ku PRIMA, tetapi kondisi yang seperti ini membuatku menderita! Kenapa?
Aku sangat sangat menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam. Mendaki gunung, menyusuri pantai, mengarungi sungai, memanjat tebing (lebih sering nontonin doang siiih!!) dan menyusuri gua. Saat SMA hobiku ini tak dapat ku jalani karena orang tua ku tidak mengijinkan aku mengikuti kegiatan-kegiatan yang berbahaya. Setelah kuliah dan tinggal pisah dari orang tua, aku merasa ada kesempatan untuk mencoba menjalani hobiku yang terLARANG ini. Dengan modal nekat aku ikut MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) yang ada di kampus ku. Akhirnya cita-cita yang tertunda dapat juga tercapai. Aku sangat senang dengan kegiatan baru ku ini. Kujalani dengan serius. Aku belajar bertahan di kondisi alam yang ekstrim. Aku juga melatih fisik ku agar sehat, bugar dan kuat.
Sejak aku menjalani kegiatan ini, hubungan aku dan ayah ku menjadi kurang baik. Karena kegiatan ini memakan waktu liburku, yang seharusnya pulang kerumah aku ada di bogor, sukabumi, jogja, surakarta, dan ke tempat-tempat lain. Yang membuat ayah marah, karena aku sering tidak bilang pergi kemana dan ponselku sering tidak bisa dihubungi. Bagaimana aku mau bilang, kalau ku katakan yang sebenarnya mungkin ayahku akan meninggal kena serangan jantung. Mama juga sering menangis karena hubungan anak dan ayah yang tidak akur. Serumah tapi tidak pernah saling sapa. Pernah sebulan lebih aku tidak di tegur ayah.
Aku iri pada teman ku yang direstui orang tuanya sebelum bepergian. Aku iri pada teman ku yang dapat membelikan buah tangan untuk orang tuanya. Kenapa orang tuaku tidak berpikiran yang sama dengan mereka? Yang ku inginkan hanya restu. Aku tak akan meminta sepeserpun untuk hobiku ini. Tetap saja mereka tidak mengizinkan.
Hasrat yang sangat besar terhadap alam membuatku lagi-lagi membohongi orangtuaku. Dan dua tahun berlalu. Dua tahun aku menjadi anak durhaka. Dua tahun aku terus memupuk dosa. Aku sadar kesalahan ku tapi… berat bagiku untuk meninggalkannya. Sungguh berat…
Suatu malam. Aku menyampaikan masalah ku ini dengan temanku di Jambi (by phone). Amar namanya. Pertama aku sampaikan tentang hobi petualangku, kemudian aku sampaikan masalahku dengan orang tuaku yang tidak merestui aku dengan kegiatan alam ku, setelah mendengar itu dia menjawab tegas kalau dia tidak akan pernah melakukan sesuatu yg tidak diizinkan orang tuanya. Jika orangtuanya tidak mengizinkan, berarti dia tidak akan pergi. Ini sungguh mengagetkanku. Tidak hanya karena nada bicaranya yang berubah tapi juga dia yang urakan, yang “semau gw” mengapa begitu patuh terhadap larangan orangtuanya. Sedangkan aku yang terlihat seperti anak baik bisa membohongi orangtuaku begitu lama?? Aku terdiam!!! Otakku penuh pikiran!! Hati ku bergejolak!!! Hening subuh telah di isi suara orang mengaji. Dada ku sesak!!! Seiring dengan kumandang azan subuh, entah kenapa?? Air mata mengucur deras dari mataku. Aku terisak! Aku sadar! Aku salah!
Sejak saat itu aku berjanji akan menghentikan kegiatan alamku. Walau berat telah ku putuskan! Aku jual carierku, teman terbaikku yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Aku putuskan gelang-gelang prusik yang ada di tanganku. Aku tidak aktif lagi di mapala. Aku ganti nomor ponselku. Kujauhkan semua yang mengingatkan ku akan kegiatan petualanganku.
Aku mencoba melanjutkan hidupku. Aku fokus kekuliah. Aku bertekad memperbaiki nilaiku yang terlanjur berantakan. Tetapi berat… sungguh berat… Sangat berat… bau tanah basah yang terkena hujan, angin yang bertiup, bintang di langit malam selalu mengingatkanku. Apalagi jendela kelasku menampakan panorama gunung gede dan salak, sulit mengalihkan pandangan darinya. Alam sendiri selalu mengingatkannku akannya. Aku sebenarnya rindu! Tetapi aku telah berjanji…
Keadaan ini membuat Psikologisku terganggu. Aku sering mengutuki takdirku. Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain. Temanku yang perempuan mereka boleh naik gunung kenapa aku tidak!! Aku putus asa! Aku benci takdirku. Aku benci diriku sendiri. Andai aku terlahir sebagai laki-laki, andai orang tuaku mengizinkan, andai… andai…andai… bunuh diri halal! Aku ingin sekali mati.
Aku sangat sangat menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam. Mendaki gunung, menyusuri pantai, mengarungi sungai, memanjat tebing (lebih sering nontonin doang siiih!!) dan menyusuri gua. Saat SMA hobiku ini tak dapat ku jalani karena orang tua ku tidak mengijinkan aku mengikuti kegiatan-kegiatan yang berbahaya. Setelah kuliah dan tinggal pisah dari orang tua, aku merasa ada kesempatan untuk mencoba menjalani hobiku yang terLARANG ini. Dengan modal nekat aku ikut MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) yang ada di kampus ku. Akhirnya cita-cita yang tertunda dapat juga tercapai. Aku sangat senang dengan kegiatan baru ku ini. Kujalani dengan serius. Aku belajar bertahan di kondisi alam yang ekstrim. Aku juga melatih fisik ku agar sehat, bugar dan kuat.
Sejak aku menjalani kegiatan ini, hubungan aku dan ayah ku menjadi kurang baik. Karena kegiatan ini memakan waktu liburku, yang seharusnya pulang kerumah aku ada di bogor, sukabumi, jogja, surakarta, dan ke tempat-tempat lain. Yang membuat ayah marah, karena aku sering tidak bilang pergi kemana dan ponselku sering tidak bisa dihubungi. Bagaimana aku mau bilang, kalau ku katakan yang sebenarnya mungkin ayahku akan meninggal kena serangan jantung. Mama juga sering menangis karena hubungan anak dan ayah yang tidak akur. Serumah tapi tidak pernah saling sapa. Pernah sebulan lebih aku tidak di tegur ayah.
Aku iri pada teman ku yang direstui orang tuanya sebelum bepergian. Aku iri pada teman ku yang dapat membelikan buah tangan untuk orang tuanya. Kenapa orang tuaku tidak berpikiran yang sama dengan mereka? Yang ku inginkan hanya restu. Aku tak akan meminta sepeserpun untuk hobiku ini. Tetap saja mereka tidak mengizinkan.
Hasrat yang sangat besar terhadap alam membuatku lagi-lagi membohongi orangtuaku. Dan dua tahun berlalu. Dua tahun aku menjadi anak durhaka. Dua tahun aku terus memupuk dosa. Aku sadar kesalahan ku tapi… berat bagiku untuk meninggalkannya. Sungguh berat…
Suatu malam. Aku menyampaikan masalah ku ini dengan temanku di Jambi (by phone). Amar namanya. Pertama aku sampaikan tentang hobi petualangku, kemudian aku sampaikan masalahku dengan orang tuaku yang tidak merestui aku dengan kegiatan alam ku, setelah mendengar itu dia menjawab tegas kalau dia tidak akan pernah melakukan sesuatu yg tidak diizinkan orang tuanya. Jika orangtuanya tidak mengizinkan, berarti dia tidak akan pergi. Ini sungguh mengagetkanku. Tidak hanya karena nada bicaranya yang berubah tapi juga dia yang urakan, yang “semau gw” mengapa begitu patuh terhadap larangan orangtuanya. Sedangkan aku yang terlihat seperti anak baik bisa membohongi orangtuaku begitu lama?? Aku terdiam!!! Otakku penuh pikiran!! Hati ku bergejolak!!! Hening subuh telah di isi suara orang mengaji. Dada ku sesak!!! Seiring dengan kumandang azan subuh, entah kenapa?? Air mata mengucur deras dari mataku. Aku terisak! Aku sadar! Aku salah!
Sejak saat itu aku berjanji akan menghentikan kegiatan alamku. Walau berat telah ku putuskan! Aku jual carierku, teman terbaikku yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Aku putuskan gelang-gelang prusik yang ada di tanganku. Aku tidak aktif lagi di mapala. Aku ganti nomor ponselku. Kujauhkan semua yang mengingatkan ku akan kegiatan petualanganku.
Aku mencoba melanjutkan hidupku. Aku fokus kekuliah. Aku bertekad memperbaiki nilaiku yang terlanjur berantakan. Tetapi berat… sungguh berat… Sangat berat… bau tanah basah yang terkena hujan, angin yang bertiup, bintang di langit malam selalu mengingatkanku. Apalagi jendela kelasku menampakan panorama gunung gede dan salak, sulit mengalihkan pandangan darinya. Alam sendiri selalu mengingatkannku akannya. Aku sebenarnya rindu! Tetapi aku telah berjanji…
Keadaan ini membuat Psikologisku terganggu. Aku sering mengutuki takdirku. Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain. Temanku yang perempuan mereka boleh naik gunung kenapa aku tidak!! Aku putus asa! Aku benci takdirku. Aku benci diriku sendiri. Andai aku terlahir sebagai laki-laki, andai orang tuaku mengizinkan, andai… andai…andai… bunuh diri halal! Aku ingin sekali mati.
